Pena Nusantara | Banyuwangi – Sebagai wujud komitmen menciptakan lingkungan yang aman dan bersahabat, Pondok Pesantren Bustanul Makmur 2 yang berlokasi di Jl. KH. Saifuddin Zuhri, Desa Kaliputih, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, menyelenggarakan sosialisasi bertema Anti-Perundungan dan Kenakalan Remaja. Kegiatan ini melibatkan seluruh dewan asatidz dan santri.
Inisiatif ini merupakan respons proaktif terhadap potensi isu kekerasan di lingkungan pendidikan, sekaligus menjadi bagian integral dari upaya pondok pesantren dalam membentuk generasi yang berintegritas dan memiliki kepedulian sosial tinggi. Para santri mendapatkan pembekalan komprehensif mengenai perilaku positif dan strategi pencegahan kenakalan remaja.
Ustadz Dedy Hartoyo, S.Kom, Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Makmur (BUMA), menegaskan peran krusial pondok pesantren dalam sosialisasi anti-perundungan. Hal ini diwujudkan melalui pendidikan langsung kepada santri, penerapan kebijakan yang ketat, penciptaan lingkungan yang suportif, serta penyediaan fasilitas pelaporan yang aman dan mudah diakses.
"Hermawan, Amd.Kom, Direktur Utama BUJP PT. Cakra Karya Nusantara, turut memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Bersama jajaran TNI Angkatan Laut, beliau hadir sebagai pemateri. Dalam kesempatan tersebut, beliau menekankan urgensi mengedukasi santri sejak dini mengenai bahaya bullying dan kenakalan remaja yang dapat merusak masa depan. Beliau juga menyampaikan bahwa pondok pesantren bukan hanya sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang aman bagi santri untuk berkembang tanpa dihantui rasa takut.
“Kita harus berkolaborasi menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses belajar dan pengembangan diri. Mari kita jadikan pondok pesantren sebagai rumah kedua yang penuh kasih sayang dan pengertian bagi seluruh santri,” tuturnya.
Sosialisasi ini dirancang interaktif, dengan sesi diskusi antara pemateri dan santri. Mereka membahas berbagai cara efektif untuk mencegah bullying, pentingnya sikap saling menghargai, serta bagaimana menjadi remaja yang bertanggung jawab dalam lingkungan komunitas. Para santri juga berkesempatan mengajukan pertanyaan langsung mengenai hal-hal yang perlu diwaspadai dalam interaksi sehari-hari, baik di lingkungan pondok pesantren maupun di luar.
"Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan para santri tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang mumpuni, serta mampu menanggulangi masalah bullying dan kenakalan remaja. Kegiatan ini merupakan langkah konstruktif dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.
(Hidayat).

1 Komentar
Semoga kegiatan ini di adakan Rutin persemester supaya anak2 lebih ingat dan paham saling menghargai menghormati adalah hal yg perlu di tekankan.
BalasHapusDan mungkin bs ditambah dr dinass kesehatan memberantas bahaya merokok dan seksual sejak dini