Pena Nusantara | Malang – Upaya peningkatan pemahaman dan penanganan masalah kesehatan jiwa terus digencarkan. UPTD Puskesmas Bantur menggelar seminar hasil praktik profesi bertema permasalahan kesehatan jiwa bersama mahasiswa profesi ners dari Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Kegiatan ini berlangsung di aula lantai 2 kantor UPTD Puskesmas Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Sabtu (11/4/2026).
Seminar tersebut menghadirkan dosen pembimbing profesi ners, Dr. Dyah Widodo, S.Kp., M.Kes, serta Kepala UPTD Puskesmas Bantur, Soebagijono, S.Kep., Ns., M.M.Kes. Turut hadir kader kesehatan desa dan seluruh mahasiswa profesi ners yang telah menjalani praktik lapangan.
Acara dipandu oleh Tri Lestari Wulandari, S.Tr.Kep yang bertindak sebagai MC sekaligus moderator. Diskusi berlangsung interaktif dengan mengangkat berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, khususnya kader kesehatan desa dalam menangani kasus kesehatan jiwa.
Dalam sesi tanya jawab, para kader menyampaikan beragam tantangan di lapangan, mulai dari stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), keterbatasan pengetahuan keluarga pasien, hingga kendala dalam akses layanan kesehatan.
Mahasiswa juga memaparkan pengalaman mereka selama tiga minggu praktik perawatan jiwa di masyarakat. Paparan tersebut mencakup pendekatan edukasi, pendampingan keluarga, serta penanganan kasus ODGJ secara langsung.
Salah satu perwakilan mahasiswa, Praditya Kumara, S.Tr.Kep, menyampaikan pesan dan kesan selama praktik. Ia menilai pengalaman tersebut memberikan pembelajaran nyata tentang pentingnya empati dan komunikasi dalam menangani pasien gangguan jiwa.
Kepala UPTD Puskesmas Bantur, Soebagijono, menekankan pentingnya kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat meningkatkan kapasitas kader dalam deteksi dini dan penanganan awal masalah kesehatan jiwa di lingkungan masing-masing. Ia juga mengharapkan kerja sama (MoU) dengan profesi ners dapat terus berlanjut di masa mendatang. tandasnya Soebagijono.
Sementara itu, Dr. Dyah Widodo menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aktif seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh yang masih sering terabaikan.
“Diharapkan melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmu secara langsung di masyarakat, serta menjadi agen perubahan dalam mengurangi stigma terhadap ODGJ,” ujarnya.
Dyah juga menambahkan harapan agar sinergi antara institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas terus diperkuat, guna menciptakan sistem penanganan kesehatan jiwa yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
(Dwi)

0 Komentar