Header Ads Widget

Header Ads

Ticker

6/recent/ticker-posts

Suara Tepi Kapuas_Pena Nusantara Dengarkan Suara Rakyat Sebelum Terlambat


Pena Nusantara |Pontianak Kalbar
- Kepada Presiden Republik Indonesia, dengan segala hormat,Sejarah mengajarkan bahwa tidak ada kebijakan yang terlalu besar untuk dievaluasi, dan tidak ada pemimpin yang kehilangan kehormatan hanya karena berani mengakui bahwa suatu program perlu diperbaiki atau bahkan dihentikan. Dalam sistem demokrasi, kekuatan terbesar bukanlah tepuk tangan para pendukung, bukan pula laporan-laporan yang tersusun rapi di atas meja birokrasi, melainkan suara rakyat yang merasakan langsung dampak kebijakan tersebut, Selasa (16/06/26)

Ada ungkapan yang hidup dalam peradaban politik modern: suara rakyat adalah fondasi legitimasi kekuasaan. Ketika rakyat mulai menyampaikan kegelisahan, maka seorang pemimpin bijaksana tidak akan menganggapnya sebagai ancaman, melainkan sebagai peringatan yang harus didengar.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), atau program apa pun yang menjadi kebanggaan pemerintah, harus diukur bukan dari indahnya konsep di atas kertas, bukan dari banyaknya presentasi dan pujian yang mengiringinya, tetapi dari hasil nyata yang dirasakan masyarakat. Jika dalam pelaksanaannya ditemukan kelemahan, ketidaksiapan sumber daya manusia, persoalan distribusi, atau ketidakefisienan anggaran, maka keberanian untuk mengevaluasi adalah bentuk kepemimpinan sejati.

Presiden tidak perlu malu kepada dunia apabila melakukan koreksi. Dunia justru menghormati pemimpin yang berani mengakui kenyataan. Yang memalukan bukanlah memperbaiki kesalahan, melainkan mempertahankan kebijakan yang terbukti tidak berjalan efektif hanya demi menjaga gengsi politik.

Perlu diingat, makan bergizi bukan semata-mata soal satu program. Makan bergizi adalah tentang kualitas pertanian, kesejahteraan petani, akses pangan, pendidikan keluarga, kesehatan masyarakat, dan pemerataan ekonomi. Jangan sampai sebuah cita-cita besar dipersempit hanya menjadi keberhasilan administratif sebuah proyek.

Waktu adalah guru yang paling jujur. Usia kepemimpinan tidak bertambah muda, dan kesempatan untuk meninggalkan warisan terbaik bagi bangsa tidak datang dua kali. Karena itu, dengarkan suara rakyat sebelum mendengar suara para pembisik kekuasaan. Dengarkan keluhan masyarakat sebelum mendengar laporan yang hanya berisi angka-angka indah.

Banyak pemerintahan di dunia jatuh bukan karena kurangnya program, tetapi karena terlalu lama menolak kenyataan yang disampaikan rakyatnya sendiri.

Masyarakat Indonesia memahami bahwa membangun bangsa sebesar Indonesia bukan pekerjaan mudah. Namun rakyat juga berharap agar setiap kebijakan lahir dari kenyataan lapangan, bukan semata-mata dari keyakinan bahwa semua akan berjalan sesuai rencana.

Tentang berbagai ramalan yang sering dikaitkan dengan almarhum Abdurrahman Wahid, masyarakat tentu memiliki beragam tafsir. Yang terpenting bukanlah membuktikan sebuah ramalan benar atau salah, melainkan memastikan bahwa bangsa ini tidak mengulangi kesalahan yang pernah diingatkan oleh sejarah: ketika pemimpin lebih mendengar lingkaran kekuasaan daripada suara rakyatnya sendiri.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling keras bertepuk tangan. Sejarah hanya mencatat siapa yang berani mendengar kebenaran ketika banyak orang memilih diam.

Suara rakyat bukan musuh pemerintah. Suara rakyat adalah kompas yang menjaga arah perjalanan bangsa.

Suara Tepi Kapuas & Pena Nusantara

Syaiful/Redaksi

Posting Komentar

0 Komentar