Header Ads Widget

Header Ads

Ticker

6/recent/ticker-posts

Kisah Pilu Sudarmi: Menanti Suami yang Dipenjara Demi Susu Cucu, Dihantui Kabar Ancaman Bunuh Diri


Pena Nusantara
| LAMPUNG SELATAN
— Di tengah riuhnya publik dan berbagai pihak yang sibuk memantau perkembangan kasus lansia pencuri getah karet milik PTPN, ada satu sosok yang menanggung beban paling berat dalam sunyi. Ia adalah Sudarmi (62), istri dari terdakwa Mujiran, yang kini harus merasakan getirnya hidup terpisah oleh jeruji besi.

Hari-hari yang dilalui warga Desa Wonodadi, Kecamatan Tanjungsari, Lampung Selatan ini terasa begitu berat. Sang suami, Mujiran, kini berstatus sebagai terdakwa atas kasus pencurian dua karung getah karet milik PTPN 1 Regional 7 Lampung Selatan.

Sudarmi dengan jujur mengakui bahwa tindakan sang suami memang melanggar hukum. Namun, ada kisah pilu di balik aksi nekat tersebut. Ia mengungkapkan bahwa perbuatan itu dilakukan murni karena keterpaksaan akibat himpitan ekonomi. Getah karet itu dicuri demi mencari sesuap nasi, membeli susu, dan menebus obat untuk cucu mereka yang kala itu sedang jatuh sakit.

Kini, untuk mengalihkan rasa sedihnya, Sudarmi lebih banyak menghabiskan waktu bersama kedua cucunya. Menemani mereka bermain mobil-mobilan butut di halaman rumah menjadi rutinitas barunya. Baginya, senyum tulus dari bocah-bocah kecil itulah yang menjadi sumber kekuatan utamanya untuk terus bertahan.

Meski berusaha tegar di depan cucunya, hati Sudarmi sebagai seorang istri hancur lebur. Pikirannya tak pernah lepas membayangkan bagaimana suaminya yang sudah renta harus bertahan hidup di balik kerasnya dinding penjara.

Rasa khawatir itu akhirnya meledak menjadi kesedihan mendalam tatkala sebuah kabar buruk sampai ke telinganya: Mujiran dikabarkan sempat berniat untuk mengakhiri hidupnya (bunuh diri) akibat tak kuat menanggung beban di tahanan.

Kini, tidak ada yang lebih diinginkan Sudarmi selain kebebasan sang suami. Ia mengaku sudah tak sabar menunggu kepulangan Mujiran.

Sebagai bentuk penantiannya, setiap hari Sudarmi selalu menyempatkan diri menengok dan membersihkan kamar belakang rumah mereka. Ia menyimpan rindu yang teramat dalam untuk kembali melihat suaminya tertidur pulas, melepas lelah di atas ranjang reot sederhana milik mereka berdua. (Roy Shandy)

Posting Komentar

0 Komentar