Pena Nusantara | Kendal -- Sampah tidak selamanya menjadi biangnya kotor, bau tak sedap yang akhirnya menjadi problem di Kabupaten Kendal. Ternyata sudah ditemukan solusinya. Yakni, sampah akan diolah menjadi energi baru bernama Petasol.
Petasol atau Plastik menjadi Solar ini adalah bahan bakar minyak (BBM) alternatif yang ramah lingkungan. Diproduksi dari limbah plastik, terutama jenis polietilena (PE) melalui teknologi fast pyrolysis. Petasol berupa cairan hidrokarbon setara solar yang digunakan untuk mesin diesel.
Energi terbarukan jenis Petasol ini, saat ini masih menjadi angan-angan karena untuk memproduksi butuh dana yang cukup besar meskipun bahan baku sudah tersedia. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kendal, Aris Irwanto kepada wartawan liputan Kendal (Forwaken) dalam acara Coffee morning di halaman kantor DLH Kendal pada Jumat (10/4/2026).
Untuk menghasilkan produk energi Petasol ini diungkapkan Aris Irwanto, satu-satunya dengan mengundang investor. Sementara ini ada investor yang bersedia menyiapkan dana untuk memproduksi Petasol. Tetapi ada beberapa persyaratan yang diminta investor terkait proses penyediaan bahan baku Petasol yang berasal dari sampah plastik, diantaranya butuh ketersediaan sampah sebanyak 1000 ton per hari sesuai dengan kapasitas mesin pengolah sampah menjadi Petasol.
Untuk memenuhi persyaratan ini, dilakukanlah kerjasama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Kota Semarang dan Kabupaten Kendal, dimana kolaborasi ini sebagai upaya mengatasi sampah secara nasional dalam mensukseskan Penyelenggaraan Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Komitmen dari kerjasama itu, Pemerintah Kota Semarang yang sudah siap menyediakan lahan untuk produksi dan bahan baku (sampah) sebanyak 900 ton per hari yang sisa 100 ton berasal dari Kabupaten Kendal untuk dikirim ke TPA Jatibarang. "Akan tetapi disayangkan hingga kini belum ada calon pembeli dari hasil olahan sampah ini," ujar Aris Irwanto.
Sementara itu, TPA Darupono sebagai tempat pembuangan akhir sampah dari masyarakat Kendal akan ditutup pada 6 bulan kedepan. "Pesan dari Pemerintah Pusat sudah tidak menghendaki adanya TPA baru ditiap kabupaten/kota. Karena Indonesia sudah menjadi urutan ke-5 dunia darurat sampah," imbuhnya.
Adapun total timbunan sampah di Kabupaten Kendal sudah mencapai 437 ton per hari. Yang masuk ke TPA Darupono sebanyak 191 ton per hari. "Untuk mengatasi masalah sampah ini, Dinas LH Kendal mengupayakan armada sampah baru. Saat ini sudah ada stok 13 armada dengan sewa atau beli," ungkap Aris Irwanto.
Pembatasan dan solusi sampah di Kendal, khusus dari organik akan diproses menjadi kompos di tiap desa. Adapun sampah plastik yang bernilai ekonomis akan dikelola yang menggandeng PT Alba Tridi Recycling Plastics Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri Kendal. Perusahaan ini mampu mengolah 48.000 ton sampah botol plastik PET per tahun. Atau setara 1,9 miliar botol.
Sriyanto

0 Komentar