Header Ads Widget

Header Ads

Ticker

6/recent/ticker-posts

Figur Nyi Pandansari Menjadi Simbol Kemakmuran Masyarakat Boja Dalam Tradisi Syawalan Dan Mertidesa


Pena Nusantara | Kendal
-- Syawalan dan Mertidesa menjadi satu rangkaian tak terpisahkan di masyarakat Boja Kabupaten Kendal yang setiap tahun terus dilestarikan.

Dua momen yang saling melekat ini, dimanifestasikan berupa kirab budaya dan arak-arakan sosok Nyi Pandansari, atau panggilan lain "Nyai Sedapu" bersama Gunungan terbuat dari berbagai hasil bumi sebagai lambang kemakmuran masyarakat Boja.

Dalam tradisi Syawalan dan Mertidesa, figur Nyi Pandansari selalu tampil yang diperankan oleh seorang perempuan muda asli kelahiran Boja dengan kriteria penilaian dari wajah, phisik dan karakternya yang menunggang kuda persis seperti Nyi Pandansari.

Tampilan figur Nyi Pandansari ini dalam iven tradisi syawalan dan merti desa Boja, diarak keliling dengan stard dari Rest Area Ngadibolo berjalan dan berputar melewati pasar Boja - RTH Boja hingga berhenti di depan makam Nyai Sedapu (Nyi Pandansari) yang diikuti Kepala Desa, Camat Boja, Perangkat Desa, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama.

Pada Syawalan 1447 Hijriah dan Mertidesa Boja tahun 2026 Masehi, oleh Pemerintah Desa Boja dilaksanakan hari Kamis (26/3/2026) yang mendapatkan perhatian khusus dari Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari. Bupati Kendal hadir di panggung kehormatan yang berada di depan RTH Boja didampingi Kepala OPD Terkait, anggota DPRD Kendal Tri Purnomo, dan Forkopimcam Boja.

Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari menyampaikan rasa kekaguman atas kegigihan Nyi Pandansari yang telah membuka saluran irigasi pertanian di wilayah Boja hingga mampu menghidupi masyarakat Boja.

Dalam sambutannya, Bupati Kendal berpesan, kegiatan syawalan dan mertidesa agar terus dilestarikan sebagai wujud penghormatan warisan leluhur. Karena bertujuan untuk menangkis gempuran budaya asing yang menyebar melalui perkembangan teknologi dan informasi (media sosial).

"Syawalan dan Mertidesa Boja ini memiliki potensi ekonomi yang mendorong UMKM maju dan berkembang. Selain sebagai sarana silaturahmi, mempererat persaudaraan juga membangun semangat kegotong-royongan masyarakat Boja," tegas bupati Kendal.

Sementara itu, Kepala Desa Boja Rofiq Anwar sebagai tuan rumah menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini dengan baik dan lancar. "Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan terlibat dalam penyelenggaraan syawalan dan mertidesa Boja tahun ini. Semoga di tahun depan akan lebih baik dan lebih semarak," kata Rofiq Anwar.

Rofiq Anwar juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bupati Dyah Kartika Permanasari yang bersedia meluangkan waktunya hadir untuk kedua kali, menyaksikan kirab budaya dan mertidesa Boja.

Kepala Desa Boja ini juga menginformasikan bahwa rangkaian kegiatan syawalan dan mertidesa Boja, dilaksanakan pada Kamis Siang yang pagi hari diawali dengan tasyakuran dilanjutkan kirab, kataman, hingga buka luwur. Dilanjutkan dengan  sholawatan, pagelaran wayang kulit dan riwayah.

"Sebagai penghormatan kepada Nyi Pandansari yang telah berjuang untuk memakmurkan masyarakat Boja, Pemerintah Desa Boja terus melakukan renovasi makam Nyi Pandansari dengan melengkapi sarana dan prasarana, seperti lorong beratap dan areal parkir serta lokasi untuk UMKM agar peziarah merasa aman dan nyaman," pungkas Rofiq Anwar.

Sriyanto

Posting Komentar

0 Komentar