Header Ads Widget

Header Ads

Ticker

6/recent/ticker-posts

Insiden Penghadangan dan Penganiayaan Pasca Demo di Kantor Bupati Sumbawa, Rekaman Buruk Wajah Pemerintah Daerah


Pena Nusantara | Sumbawa
-- Inilah wajah asli Pemerintah Sumbawa hari ini sebuah potret yang sangat miris, antikritik, dan jauh dari nilai-nilai dialog demokratis yang sehat.

Cerita bermula ketika kelompok warga masyarakat menggelar aksi unjuk rasa damai untuk menyampaikan aspirasi dan menuntut keadilan terkait Surat Edaran (SE) Bupati Sumbawa. Namun, ada satu kegilaan yang sangat mengherankan sejak awal: pihak pemerintah daerah justru diduga sengaja membenturkan massa dengan menghadirkan demo tandingan dari anggota LSM berkedok pelestarian alam. Sungguh sebuah taktik yang gila dan tidak berakal karena sengaja menciptakan ruang untuk bentrokan antarkelompok masyarakat di area lokasi demo sejak awal.

Proses jalannya aksi di Kantor Bupati Sumbawa ini benar-benar memperlihatkan bagaimana penguasa menutup telinga dari jeritan warganya. Bupati enggan dan sama sekali tidak mau menemui massa aksi secara langsung. Sebagai gantinya, pihak bupati hanya meminta perwakilan dari warga untuk masuk. Akhirnya, 5 orang perwakilan pendemo dari kami masuk ke dalam kantor untuk menemui staf bupati. Di dalam ruangan, 5 orang perwakilan pendemo ini terlibat perdebatan sengit dengan jajaran staf tersebut. Karena pertemuan itu hanya menjadi formalitas kosong tanpa solusi, perwakilan warga akhirnya keluar dan massa pendemo memutuskan untuk membubarkan diri secara tertib.

Namun, arogansi kekuasaan ternyata berbuntut panjang di jalanan. Dalam perjalanan pulang, rombongan warga pendemo terbagi ke dalam 2 (dua) rombongan terpisah. Saat melintasi wilayah Kecamatan Moyo Hulu, Rombongan 1 warga pendemo memutuskan untuk menepikan kendaraan dan mampir makan di salah satu rumah makan setempat.

Sangat miris, petaka premanisme justru pecah ketika kendaraan (mobil Carry) yang membawa Rombongan 1 warga pendemo ini hendak melanjutkan perjalanan setelah selesai makan. Secara mendadak, di area jalan marga setempat, mobil mereka dihadang oleh sekelompok oknum LSM yang sejak awal sudah mengintai dan mengawal gerakan aksi tandingan di kantor bupati. Kelompok LSM yang bertindak arogan layaknya preman peliharaan ini langsung menyerang secara membabi buta, menghantam kaca depan mobil Carry menggunakan kursi kayu hingga retak parah dan pecah .

Aksi anarkis kelompok LSM tersebut terbukti salah sasaran. Mereka melakukan penghadangan brutal itu karena berniat memburu salah satu pendemo dari kami yang bernama Memet. Kelompok LSM tersebut mengira Memet berada di dalam mobil Rombongan 1, padahal ia sama sekali tidak ada di dalam kendaraan tersebut. Berdasarkan bukti kuat yang dihimpun di lapangan, kelompok penyerang ini bergerak di bawah satu komando gerbong orang-orang suruhan oknum pemeritah , serta diduga kuat didalangi dan diprovokasi oleh seorang mantan anggota Dewan (DPRD) dari Partai Gerindra bernama Lusir Ale. Sungguh ironis, mantan wakil rakyat justru memimpin aksi represif terhadap rakyatnya sendiri.

Ketegangan tidak berhenti di situ dan semakin menelanjangi rapuhnya penegakan hukum. Kelompok LSM tersebut kemudian bergerak menuju wilayah Sektor Lunyuk. Di sekitar area kantor lingkungan Kepolisian Sektor (Polsek) Lunyuk, kelompok LSM ini justru benar-benar berpapasan dengan Memet. Begitu melihat targetnya, aksi kekerasan fisik secara brutal langsung pecah. Rekan kami, Memet, dikeroyok dan dianiaya secara langsung oleh oknum bernama Rojes dan Lusir Ale.

Sangat memprihatinkan, peristiwa ketegangan dan penganiayaan di area lingkungan kepolisian tersebut terjadi dan disaksikan langsung secara kasat mata oleh Kapolsek Lunyuk beserta jajaran personelnya, serta dihadiri pula oleh Camat setempat yang berada di lokasi pada hari Jumat.

Kejadian ini menjadi catatan hitam yang sangat kelam. Ketika rakyat datang mengetuk pintu kantor bupati untuk berdialog, mereka justru dihadapi oleh aksi tandingan buatan, perwakilan pendemo hanya ditemui oleh staf, dikuntit oleh oknum LSM, hingga berakhir dengan pengerusakan fasilitas dan  di depan aparat. Sungguh sebuah realitas pemerintahan yang memilukan.

Catatan Penutup Warga:Saya menyampaikan kronologi ini secara terbuka dan sejujurnya, murni sesuai dengan fakta yang benar-benar terjadi di lapangan. Tulisan ini disebarluaskan dengan harapan besar agar keadilan ditegakkan, dan tidak akan pernah terjadi lagi hal serupa yang mencederai hak warga negara dalam berdemokrasi di tanah Sumbawa.

(Dedy)

Posting Komentar

0 Komentar